Inflasi Global Meningkat
Ekonomi

Inflasi Global Meningkat, Daya Beli Warga Tertekan

Dalam beberapa waktu terakhir, topik Inflasi Global Meningkat kembali ramai dibahas karena banyak orang merasa harga kebutuhan masih tinggi, sementara kenaikan pendapatan tidak selalu mengikuti. Aku melihat situasinya unik, karena di atas kertas sebagian indikator menunjukkan inflasi melandai, tetapi di lapangan tekanan biaya hidup tetap terasa, apalagi ketika energi atau pangan kembali naik di beberapa negara.

Bagi Kamu, inflasi bukan sekadar angka statistik. Inflasi mempengaruhi kemampuan Kamu membeli barang yang sama dengan uang yang sama. Saat harga naik lebih cepat daripada pendapatan, daya beli tertekan dan keputusan harian ikut berubah, mulai dari belanja mingguan, cicilan, sampai rencana menabung

Di artikel ini Aku membahas mengapa tema Inflasi Global Meningkat muncul lagi, faktor pemicunya, dampaknya bagi masyarakat, serta langkah praktis yang bisa Kamu lakukan.

Kenapa Inflasi Global Meningkat

Ada dua alasan besar mengapa narasi Inflasi Global Meningkat kembali kuat. Pertama, beberapa komponen harga yang sensitif seperti energi menunjukkan kenaikan tahunan di sejumlah negara. OECD mencatat inflasi energi di kawasan OECD naik pada 2025, dan pada data terbaru inflasi energi tetap bergerak naik dibanding periode sebelumnya, meski inflasi headline turun.

Kedua, sekalipun inflasi tahunan menurun di beberapa wilayah, harga yang sudah telanjur tinggi membuat orang tetap merasa biaya hidup mahal. Jadi, rasa tertekan tidak selalu hilang hanya karena laju kenaikan melambat. OECD juga membahas isu inflasi dan biaya hidup sebagai tema besar, karena dampaknya ke rumah tangga bertahan lebih lama daripada siklus berita.

Energi sering menjadi pemantik karena mempengaruhi biaya transportasi dan produksi. Saat energi naik, biaya logistik naik, lalu merembet ke banyak barang. Data OECD menunjukkan inflasi energi pernah melonjak kembali pada paruh kedua 2025 karena efek basis dan faktor harga energi. Ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa gelombang tekanan belum selesai.

Inflasi inti, yaitu inflasi yang mengecualikan komponen paling volatil, sering turun lebih lambat. OECD Economic Outlook mencatat inflasi jasa masih lengket di banyak ekonomi dan barang tertentu kembali naik, termasuk dipengaruhi pangan. Ini membuat inflasi terasa bertahan di layanan yang Kamu gunakan rutin, seperti transportasi, pendidikan, perumahan, dan kesehatan.

Ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang dapat mendorong biaya impor, mengganggu rantai pasok, dan menambah ketidakpastian harga. IMF menekankan inflasi global diproyeksikan turun, tetapi ada variasi antarnegara dan risiko kenaikan masih ada, terutama di Amerika Serikat dengan risiko condong ke atas. IMF juga mengingatkan ketegangan perdagangan dapat memperburuk inflasi dan kondisi ekonomi.

Perbedaan Negara Maju dan Berkembang Dalam Menghadapi Inflasi

Untuk memahami tema Inflasi Global Meningkat, Aku mengajak Kamu melihat gambaran yang lebih seimbang. Bank Dunia dalam rilis Global Economic Prospects Januari 2026 memproyeksikan inflasi global menurun pada 2026, didorong pasar tenaga kerja yang lebih lunak dan harga energi yang lebih rendah. Artinya, tren besar di banyak tempat memang menuju pelonggaran.

Namun, IMF menyebut penurunan itu tidak merata. Ada negara yang inflasinya sudah dekat target, ada yang masih di atas target, dan ada risiko kenaikan kembali jika energi dan kebijakan dagang berubah. Inilah ruang yang membuat judul seperti Inflasi Global Meningkat tetap relevan, karena publik merasakan dan pasar juga mengantisipasi potensi gelombang baru

1. Negara maju dan perbedaan kondisi

Di kawasan euro, inflasi pada beberapa periode terlihat lebih stabil dan mendekati target. ECB dalam Economic Bulletin menyajikan proyeksi inflasi yang cenderung menurun pada 2026 sebelum kembali mendekati target jangka menengah. Tetapi dinamika tiap negara berbeda, termasuk pengaruh energi dan barang impor.

Di Amerika Serikat, beberapa analisis media keuangan menyoroti kekhawatiran inflasi 2026 bisa naik lagi karena kombinasi geopolitik, komoditas, dan faktor kebijakan. Aku menekankan ini bukan kepastian, tetapi menggambarkan mengapa pelaku pasar terus waspada.

2. Negara berkembang lebih rentan

Banyak negara berkembang lebih rentan karena biaya impor energi dan pangan tinggi, kurs bisa bergejolak, dan ruang fiskal sempit. IMF juga menyampaikan banyak negara tidak punya bantalan yang cukup jika guncangan datang lagi, dan lembaga itu menjalankan banyak program pembiayaan. Ini menunjukkan tekanan biaya hidup dapat lebih berat di negara yang daya tahannya terbatas.

Dampak inflasi pada daya beli warga

Saat Inflasi Global Meningkat, dampak paling nyata adalah penurunan daya beli. Kamu bisa membelanjakan uang yang sama untuk barang yang lebih sedikit. Dampak ini biasanya terasa paling kuat pada rumah tangga berpendapatan rendah karena porsi belanja kebutuhan pokok lebih besar.

Ada beberapa jalur utama yang membuat daya beli tertekan.

1. Daya Beli Turun

Jika upah naik lebih lambat daripada harga, daya beli turun. Bahkan ketika inflasi mulai melambat, harga yang sudah tinggi tetap membuat kemampuan belanja tidak kembali seperti sebelumnya. Banyak dukungan biaya hidup di beberapa negara pernah dilakukan untuk membantu rumah tangga, yang menunjukkan tekanan daya beli adalah isu kebijakan, bukan hanya isu rumah tangga.

2. Biaya pangan dan energi paling terasa

Pangan dan energi adalah belanja rutin. Ketika komponen ini bergerak naik, dampaknya cepat terasa. OECD mencatat inflasi pangan dan inflasi inti menurun pada 2025, tetapi energi justru naik pada periode tertentu. Pola ini membuat sebagian rumah tangga tetap merasa tertekan, karena pengeluaran transportasi dan utilitas sulit dipangkas.

3. Bunga pinjaman Tertekan

Ketika inflasi tinggi atau risiko inflasi naik, bank sentral cenderung menahan suku bunga lebih lama. Reuters melaporkan ECB melihat inflasi dekat target dan cenderung stabil, tetapi juga mengingatkan risiko guncangan kebijakan dan dinamika global bisa mempengaruhi kondisi ke depan. Di banyak negara, suku bunga yang bertahan tinggi berarti cicilan rumah, kendaraan, atau modal usaha bisa tetap mahal.

Tema Inflasi Global Meningkat muncul karena meski sebagian proyeksi menunjukkan inflasi global menurun, tekanan biaya hidup masih kuat dan ada risiko gelombang kenaikan di komponen tertentu seperti energi, komoditas, dan biaya impor. OECD menunjukkan inflasi headline menurun, tetapi energi sempat naik, sementara IMF menilai inflasi global turun dengan variasi antarnegara dan risiko kenaikan masih ada.

Bank Dunia memproyeksikan inflasi global melandai pada 2026, namun ketidakpastian kebijakan dan geopolitik tetap menjadi faktor risiko. Aku berharap artikel ini membantu Kamu memahami mengapa daya beli terasa tertekan, sekaligus memberi langkah praktis agar Kamu lebih siap menghadapi perubahan harga di tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *